Feeds:
Posts
Comments

Pegawai Negeri Sipil

LAMARAN CPNS
saat itu adalah akhir minggu. saya, pasangan saya, dan seorang teman saya sedang berkunjung ke salah satu festival kuliner di kota kami. Lalu datang seorang teman kami yang lain. Dia baru tiba setelah memenuhi panggilan wawancara kerja di kota satelit terdekat. Seorang teman saya bertanya kepada seorang teman kami,

” Mau kerja apa lu di situ ? “

Saya lupa akan simakan jawabannya. Yang pasti tiba-tiba topik beralih kepada PNS. Lalu terjadilah beda pendapat yang cukup sengit antara Seorang Teman Saya (STS) dengan Seorang Teman Kami (STK). Saya pun jadinya ikut terjerumus (tetapi tidak dengan pasangan saya).
Inti dari beda pendapat itu adalah pandangan masing-masing terhadap status PNS. Si STS berpendapat bahwa PNS itu adalah Pemerintah, dimana Pemerintah identik dengan kebusukan dan ketidakbenaran. STS tampaknya sudah apatis dengan kondisi pemerintahan di negara kami. Sedangkan si STK berpendapat bahwa PNS itu sudah tidak seburuk masa-masa yang lalu, sudah ada perbaikan menurutnya. STK tampaknya cukup optimis dengan kondisi pemerintahan yang mulai membaik.
Sedangkan saya ?
Di peristiwa beda pendapat itu saya ternyata memilih untuk berpihak kepada STK. Namun bukannya saya optimis dengan keadaan yang mulai membaik, tapi lebih kepada jawaban akan pertanyaan:

” Kalau bukan saya, siapa lagi ? “

Maksud saya adalah kalau bukan kita-kita yang telah mendapatkan pendidikan sewajarnya di perguruan terbaik bangsa ( ITB dalam contoh kasus saya), siapa lagi yang akan memperbaiki pemerintahan negeri kita sendiri ? Si STS pun ketika saya tanya akan siapa yang harus memperbaiki pemerintahan, dia pun menjawab ya kita-kita ini. Namun STS tetap berpendapat jika kita-kita (yang idealis) ini pun pasti kemungkinan besar akan tenggelam dalam realita yang sudah terpakem dan terbingkai di dunia pemerintahan. Pesimis bisa ya, bisa tidak.
Saya sering mendengar orang-orang (atau bahkan saya sendiri) bilang bahwa:

“Argh..Ga bener ni Pemerintah !”

Keluhan-keluhan yang sebenarnya hanya basa-basi semata. Mengapa? Karena mayoritas yang mengucapkan keluhan itu hanyalah orang yang bisa ngomong tok, hanya berani berbicara dibelakang, tanpa bisa memberi contoh secara konkret tentang bagaimana pemerintah harusnya berperilaku layaknya wakil rakyat sekaligus pemimpin rakyat.
” Kenapa gak lu aja coba jadi bagian dari pemerintah ? “, kalau boleh saya bilang.
” Ahh.. Gak deh. Jangan gue dah. Banyak yang lebih pantes kok :P “, rata-rata jawaban yang ditemui. Andaikata 10 juta manusia Indonesia berpendidikan minimal S1 yang wajar mengatakan jawaban yang serupa, apa yang akan terjadi? Padahal angka 10 juta itu bukanlah perkara yang sulit untuk dicari. Semua hanya ingin hasil yang serba instant, tanpa mau bekerja keras bersama-sama bukan demi harta kekayaan pribadi.
(Ha..ha..kalimat-kalimat saya sudah mulai menjijikan tampaknya)
Kesimpulan yang ingin saya kemukakan adalah ada baiknya jika kita ingin memperbaiki citra negeri ini, haruslah bekerja keras dan bersama-sama. Harus dua-duanya, tidak bisa hanya salah satu. Bagi yang merasa mampu, cobalah mendaftar Calon Pegawai Negeri Sipil sesuai dengan bidang masing-masing. Saya hanya bisa menjamin bahwa kerja keras kita tidak akan muncul dalam waktu dekat, hehe. Tapi niscaya anak cucu kita yang akan merasakan Indonesia yang lebih bermatabat dan hebat.

Dirgahayu 64 Tahun Republik Indonesia.
Jayalah Indonesiaku.
Merdeka !!
cpns-2
PS :
- buat Ibuku, mohon maaf jika nanti setelah saya lulus, saya hanya akan berkarir di Pemkot :P udah ga penting meraup dollar-dollar sing itu :)
- buat Namboru Hasibuan, salut dan kagum dalam memprommosikan PNS walaupun sempat diejek-ejek ideologinya hampir oleh seluruh angkatan :)

in memoriam..

when the sky was in the phase of beauty, that where my deeply lost was something beautiful.

(in memoriam, 6015073 and the rest of them, made in Japan-China-Thailand-Indonesia)

bdGis this a handout ?

:)

z1z2

 soekarno-hatta

wo wohnst du? -in Proklamasistraße.
wo liegt das?? -was?? u don’t know ha’?
memang negara ini diproklamirkan merdeka dimana?
Jakarta la’.
lebih tepatnya daerah mana?
mmm…hihi..
weks.
memang proklamasi daerah mana tuh?
menteng.
elit donk??
was??
emank kalo ditanya daerah mana itu nanya kelurahan yak?
mmm..heh??

————-

the situation

Conversation like that commonly experienced when I talk about where I live. Not exactly like that, but sort of like that. I’ve been living in Proklamasi neighbourhood since I was 3. I am now 24. Quite a long time. Maybe I wouldn’t know either about Proklamasi street or Proclamation Monument if I didn’t live there, maybe only heard it from my History Class on school-nothing more. And why can be that? In my opinion, maybe because that place isn’t as famous as, for example, National Monument (Monas), or Bunderan HI (with its Grand Indonesia, Plaza Indonesia, and EX); despite the quite close distance between all of them.

Proclamation Monument (a.k.a Pola Building) is just located obviously in not-so-great neighbourhood at Menteng, Pegangsaan. Want to know why? Look at it, every afternoon it’s always used as a play ground and a futsal arena for “small” people around it. Actually, Proclamation Monument is surrounded by some of quite-slum neighbourhoods there, with the famous : Anyer clan (which almost always be involved in every gank-wars years ago). Quite nasty bad neighbourhood it was, no sh#t. I remember 11 years ago, it was Puasa period. One early morning I with my friend was on our bicycle-riding suddenly trapped on some gank-war right at side of Proclamation Monument, sweet. I was amazed how many drinking glasses and stones could easily flew and be thrown, then smashed the floor of carpark (maybe some hit some people’s head-I didn’t know).

the boyz

[ Captured at Monumen Proklamasi-Jalan Proklamasi-Kelurahan Pegangsaan-Kecamatan Menteng-JakPus ]

j.co #1

suatu malam saya bermimpi..
aneh tentunya..
diceritakan bahwa saya berada di depan counter sebuah merek dagang terkenal, J.co
diceritakan bahwa saya hendak membeli sesuatu dari produk mereka..
diceritakan bahwa ternyata saya kaget melihat harga-harga dari produk tersebut..
diceritakan bahwa saya seperti tidak ada uang sehingga tidak sanggup membelinya..
tiba-tiba mimpi terputus dan atau tersambung dengan scene yang tidak saya ingat..
sebangunnya saya dari tidur saya waktu itu saya teringat kembali akan mimpi tersebut dan berpikir :
’semiskin itukah keadaan saya saat ini ?’

j.co #2

saya jadi juga teringat keadaan terakhir saya ketika berkunjung ke J.co beberapa waktu silam bersama pasangan saya :
kami hanya memesan 2 buah donat (masing-masing kami 1 buah) dan tanpa memesan minum.
kami hanya ingin sekedar numpang mejeng di sofa coklat-nya mereka.
walaupun secara jujur saya agak tengsin duduk disebelah manusia yang setidaknya memesan 3 buah dan secangkir kopi atau segelas cappucino.
setting J.co pada waktu kejadian itu ada di Kalibata Mall, sebuah mall strata menengah kebawah yang cineplex 21-nya sekarang hanya menampilkan film-film dalam negeri tanpa film mancanegara sedikit pun.
Setelah mengingat kejadian tersebut dan kemudian mengingat mimpi saya sebelumnya, saya pun berpikir untuk kedua kalinya :
’semiskin itukah keadaan saya saat ini ?’

j.co #3

hari ini secara tidak sengaja saya kembali mengunjungi Kalibata Mall. Saya pun kembali teringat pikiran-pikiran saya sebelumnya. Saya pun seperti disepet oleh diri saya sendiri. dan kemudian terdengar suara nyaring seorang lelaki, ” Selamat datang di J.co. Boleh saya bantu pesanannya? “. Saya pun tanpa ampun langsung memesan setengah lusin donat dan segelas cappucino. “Bodo amat dah kalo besok harus narik  ojek. Yang penting gw kagak penasaran.“, pikirku saat itu. Mental masak bodoh dan nekad-ku pun muncul, dan hatiku tertawa lega. Pada akhirnya pun saya dan pasangan tidak menikmatinya di sofa coklat yang empuk itu, melainkan hanya di sebuah taman kecil yang sederhana dan tenang. Yang penting dah kebeli lah…

j.co #4

1 2 3 4 5 #

sunset lights

m

jerman-10

Older Posts »