Feeds:
Posts
Comments

Auf wiedersehen, eyang..

“Kamu tuh harus jadi laki-laki.. Jangan hanya sekedar jadi cowok..”, itulah kalimat nasehat pedas terakhir dari beliau beberapa waktu lalu yang masih bisa saya ingat menyangkut kebiasaan saya dalam menghisap tembakau.

Beliau pun masih sempat menyisihkan angpaw Natal kepada saya yang dititipkan kepada ibu saya (a.k.a anaknya); angpaw yang sampai saat ini pun akhirnya belum sempat saya ucapkan terimakasih-nya secara langsung.

Disaat beliau masih tergolek tidak sadar di ICU selama satu minggu pun saya pura-pura tidak sempat menjenguk dengan alasan perwalian akademis. Benar-benar alasan sampah.

Saya menjadi benar-benar merasa tidak pantas untuk meminta maaf atas dosa-dosa saya terhadap beliau. Pada saat-saat seperti inilah saya baru benar-benar sadar bahwa saya termasuk manusia yang kotor. Saya hanya bisa berkata dalam hari,”Mohon ampun, eyang..”.

Semoga beliau bisa setidaknya memaafkan sepersepuluh kesalahan total saya.

Sampai bertemu lagi, Eyang Uti.. Salam untuk Eyang Kakung dan dek Niko disana.. (Saya masih hutang menghadiri pemakaman mereka waktu itu)..

GBU..♥

Samuel Unggul Natigor

252 09 034

AR-5151_METODOLOGI PENELITIAN ARSITEKTUR

Metodologi merupakan rangkaian keseluruhan dengan menggunakan metoda-metoda untuk mencapai tujuan. Ini berarti metoda tidak sama dengan metodologi karena metoda adalah bagian dari metodologi. Sedangkan penelitian adalah kegiatan mengukur, menbandingkan, serta menilai data-data yang dikumpulan terkait dengan apa yang diteliti; dengan sesuatu yang diteliti adalah sesuatu yang “grey” (tidak jelas). Di dalam penelitian, permasalahan atau ‘pertanyaan’ diarahkan secara sistematis menuju penciptaan sebuah pengetahuan baru. Sistematik disini tidak selalu hal yang eksperimental /positivistik (memakai statistik). Pada dasarnya semua riset itu reductionist (penyederhanaan), dan penciptaan pengetahuan baru itu juga tidak selalu merupakan Grand Theory (Big T); bahkan untuk periode masa sekarang jarang peneliti mencari sebuah Big T yang baru.

Metodologi penelitian ini memiliki persiapan yang dibagi dalam tiga tahap proses. Pertama adalah System of Inquiry, yaitu tahap dimana segala ‘pertanyaan’ dan permasalahan (sebaiknya adalah hal-hal yang tidak terlalu umum/luas) yang berkaitan dengan penelitian ini mulai dipahami dan dikumpulkan; contoh System of Inquiry yang sering digunakan di dalam penelitian arsitektur adalah Critical Theory dan Post Structuralist. Kedua adalah Strategy, yaitu tahap dimana strategi penelitian mulai ditentukan; apakah berupa metoda, riset, atau perancangan. Ketiga adalah Tactic, yaitu tahap pengembangan dari tahap sebelumnya; seperti teknik/cara dan prosedur apa saja yang akan digunakan nantinya.

Penelitian selalu berkaitan dengan fenomena-fenomena, dan ini berpengaruh kepada jenis kerangka penelitian itu sendiri. Terdapat dua jenis/sifat kerangka penelitian, yaitu penelitian yang bersifat kuantitatif (dimana manipulasi fenomena itu dapat diukur) dan yang bersifat kualitatif (tidak terukur). Penelitian yang bersifat kuantitatif memiliki karakter matematik, atomistik, reductionist, serta konvergen (sering ditemui pada penelitian di bidang teknologi, engineering, dan perilaku). Penelitian yang bersifat kualitatif memiliki karakter mythic/poetic, berkesinambungan, menyeluruh, divergen, dan generative (sering ditemui pada penelitian di bidang seni, kemanusiaan, arsitektur, serta bidang desain yang lainnya).

Apakah yang membedakan karya lanskap yang satu dengan yang lainnya? Terlepas dari itu apakah fungsi lanskap untuk pribadi maupun untuk masyarakat umum. Jika kami sebagai masyarakat awam ataupun akademisi yang belum terlalu mengerti dengan seluk beluk perancangan lanskap, mungkin akan secara gamblang menjawab bahwa yang membedakan adalah masing-masing ciri dan gaya dari si perancang lanskap tersebut, tanpa tahu sebenarnya hal-hal apa sajakah yang mendasari si perancang tersebut. Perancang A mungkin dikenal dengan gaya perancangan kontemporer pada wilayah lanskap publik, atau perancang B dikenal dengan pendekatan gaya minimalis pada wilayah lanskap pribadi (atau lebih tepatnya taman pribadi), ataupun perancang C dikenal gemar memakai pendekatan klasik dan formal pada karya-karya lanskapnya. Tetapi apakah itu dapat menjadikan suatu karya lanskap menjadi sesuatu yang unik dan khas?

Untuk konteks sebagai pembeda dari salah satu perancang lanskap dengan perancang yang lain, mungkin pertanyaan diatas dapat dijawab dengan pernyataan positif. Namun untuk konteks perancang lanskap yang sama dengan wilayah perancangan lanskap yang berbeda, jawaban pasti akan berbeda. Merancang pada wilayah X dengan merancang pada wilayah Y tentu akan ada perbedaannya; dan jelas bahwa perbedaan itu bukan datang dari faktor siapakah yang merancang (karena pada umumnya perancang tertentu sudah memiliki gaya dan ciri yang tetap), namun datang dari apakah dan darimana yang akan dirancang; dan inilah yang mungkin diartikan sebagai kekhasan lokal.

Kekhasan lokal (dengan konteks lanskap) adalah tentang apa yang membuat kelokalan tersebut berbeda dengan apa yang ada di sekelilingnya dan apa yang membuatnya menjadi spesial[1]. Hal yang diungkapkan oleh Samantha Gibson tersebut mungkin dapat diartikan bahwa setiap komponen lokal dapat menjadi potensi dalam sebuah perancangan lanskap. Topografi, vegetasi, ekosistem, material alam, serta sejarah, budaya, dan bahkan ekonomi mungkin dapat termasuk dalam komponen tersebut. Terlepas dari komponen-komponen tersebut, suatu lanskap (yang dikatakan memiliki semua fitur bahasa[2]) dapat dikelompokan dalam ‘bahasa‘ atau faktor fisik maupun non-fisik. Secara fisik, karakter lokal sebuah wilayah lanskap mungkin dapat dilihat atau dikenali dengan lebih mudah; vegetasi apakah yang menjadi ciri wilayah tersebut, kemiringan topografi pada wilayah tersebut, jenis tanah dan jenis batuan, serta material yang sudah tersedia. Namun bagaimanakah dengan sesuatu yang non-fisik? Apakah faktor tersebut dirasa cukup penting dalam menentukan kekhasan suatu perancangan lanskap?

Ketika dikaitkan dengan faktor ekonomi, kekhasan sebuah wilayah lanskap mungkin dapat dikaitkan dengan apakah wilayah tersebut berpengaruh dalam proses produksi kapital dari wilayah tersebut. Hal ini umumnya terjadi pada daerah pertanian atau perkebunan atau justru pertambangan. Namun pada umumnya juga bila dikaitkan dengan perancangan sebuah lanskap, faktor non-fisik ini justru jauh lebih dipentingkan daripada faktor fisik tersebut, sehingga terlihat sebuah ketidaksalingdukungan antara kedua faktor tersebut; sedangkan alangkah baiknya jika kedua faktor (fisik dan non-fisik) lanskap ini dapat saling mendukung. Perubahan konteks pandangan tentang sebuah karya lanskap yang dirancang yang sebelumnya dianggap terlalu menitikberatkan pada hal ekonomis dan praktis menjadi hampir sepenuhnya dekoratif[3] pun menjadikan para perancang lanskap untuk mulai meninggalkan faktor ekonomi sebagai dasar dari sebuah perancangan; kecuali hal bahwa setiap perancang (terutama dalam konteks perancangan wilayah lanskap pribadi) memperhatikan kemauan-kemauan si pemilik wilayah (yang dianggap sebagai pemberi bayaran kepada perancang) dianggap sebagai faktor ekonomi.

Faktor non-fisik kelokalan yang lain adalah sejarah dan budaya. Kedua faktor ini sulit dipisahkan karena memang sulit melihat budaya terlepas dari sejarah dan sebaliknya. Kedua faktor inilah yang menurut kami (penulis) sebagai faktor non-fisik terpenting yang dapat mendukung faktor fisik (atau visual) dalam menentukan rancangan sebuah karya lanskap yang khas. Mengapa? Didalam bukunya, Sutherland Lyall menyebutkan bahwa terdapat pemikiran tentang lingkungan lanskap yang melebihi dari hanya sekedar visual, namun sebuah lingkungan lanskap juga memiliki sebuah resonansi budaya dan sejarah yang tidak bisa diacuhkan[4]. Sedangkan menurut James Corner, lanskap tidak hanya merupakan femomena fisik, tetapi juga merupakan sebuah skema kultural, sebuah filter konseptual dimana hubungan kita dengan alam bebas dapat dimengerti[5]. Setiap wilayah perancangan lanskap tentu memiliki ’cerita‘nya masing-masing; dan ’cerita’ tersebut tentu akan semakin bercerita jika faktor non-fisik tersebut dipadukan dengan faktor fisik daerah tersebut dan pada akhirnya diintervensi oleh sebuah karya perancangan lanskap. Perpaduan inilah yang menjadikan sebuah karya rancangan lanskap pada suatu wilayah akan terasa sangat khas.

Menerapkan sejarah dan budaya ke dalam lanskap tidak hanya dengan memasukkan elemen-elemen dari luar tapak, tapi juga dengan sebisa mungkin memelihara apa yang sudah ada di tapak tersebut. Menurut Marta Schwartz, beberapa perancang lanskap meyakini bahwa lanskap juga dapat berperan sebagai artefak budaya, ekspresi budaya kontemporer, dan terbuat dari material-material modern. Bahasa lanskap dalam mengekspresikan budaya dan sejarah lokal di daerahnya tidak hanya diterjemahkan dalam elemen-elemen natural, tapi juga dari elemen buatan seperti, beton, aspal, plastik, dan material modern lainnya[6]. Dengan mengedepankan sejarah dan budaya lokal dalam merancang sebuah lanskap, diharapkan nilai-nilai luhur daerah tersebut dapat dipelihara dan direfleksikan oleh masyarakatnya. Untuk lebih memperjelas pernyataan-pernyataan dalam tuliskan ini, ada baiknya kami (penulis) memberikan contoh-contoh sebagai berikut.

Contoh kasus yang pertama adalah Jardines del Pedregal (El Pedregal) karya Luis Barrágan. Tapak El Pedregal berlokasi di pinggiran kota New Mexico, di atas bekas lahan lava yang sudah mengeras. Barrágan bermaksud untuk membuat sebuah kompleks residensial di mana pada masing-masing rumah akan terdapat taman yang bersifat privat. Dalam merancang lanskap El Pedregal, Barrágan melestarikan elemen-elemen yang ada, seperti bentuk batuan-batuan lava, dan mengkombinasikannya dengan vegetasi-vegetasi lokal yang khas di daerah tersebut. Selain dalam konteks elemen naturalnya, elemen buatan dalam lanskap El Pedregal ini juga menerapkan budaya lokalnya, dalam kasus ini adalah konteks budaya sejarah Mexico[7]. Barrágan dikenal dengan ciri khas karyanya yang beragam warna. Warna-warna yang digunakan Barrágan dalam karya-karyanya diambil dari sejarah Mexico itu sendiri, di mana sebelum menjadi daerah kolonial Spanyol, Mexico dahulunya adalah merupakan wilayah Teotihuacan. Teotihuacan sendiri banyak mengkombinasikan warna-warna dalam budayanya. Warna-warna inilah yang digunakan Barragan dalam merepresentasikan budaya Mexico dalam karyanya yang mayoritas juga berlokasi di Mexico.

Contoh kasus yang kedua adalah San Jose Plaza Park karya George Hargreaves. Pada kasus ini Hargreaves diminta oleh aparat pemerintahan kota San Jose untuk merancang sebuah lanskap untuk ruang terbuka tertua di kota tersebut. Penerapan pendekatan terhadap sejarah dan budaya terlihat ketika Hargreaves yang menempatkan titik-titik water jet pada plaza taman sebagai referensi dari sumur-sumur artesian yang pernah ada di dekat tapak pada awal tahun 1800an. Semburan air dari water jet tersebut yang semakin sore semakin tinggi merupakan metafor yang melambangkan sejarah Santa Clara Valley yang terus berkembang. Orchard juga dipakai untuk mengingatkan akan adanya kebun buah-buahan yang subur di sekitarnya. Terdapat juga tiang-tiang lampu bergaya kuno yang melambangkan sejarah kota yang sudah 300 tahun berdiri. Sedangkan adanya fitur air mancur yang menyala merujuk kepada teknologi tinggi dari Silicon Valley[8].

Contoh kasus yang ketiga adalah Le Parc de la Corderie Royale karya Bernard Lassus. Lassus memenangkan kompetisi nasional untuk membuat lanskap di daerah restorasi Corderie Royale de Rochefort. Rochefort dulunya dirancang sebagai pabrik tali (corderie) untuk angkatan laut Louis XIV, lalu dikembangkan oleh Colbert sebagai gudang senjata angkatan laut. Lassus lalu mengangkat tentang hubungan antara pabrik tali dan laut. Dengan membuka tiga ruang besar dalam vegetasi yang sudah tumbuh di sepanjang bantaran sungai, Lassus mengembalikan hubungan antara bangunan dan sungai. Terdapat juga galeri tanaman outdoor exotic, yang merujuk kepada spesimen botanik yang dibawa pada abad 17. Untuk membuat hubungan antara tapak ke kota, salah satu solusinya adalah dengan membuat jalan langsung dari kota ke tengah corderie. Namun menurut Lassus, bangunan corderie ini tidak pernah menjadi bangunan yang monumental melainkan industrial. Oleh karena itu, Lassus memberikan solusi dengan membuat ramp besar yang menghubungkan kota bagian luar di sebelah utara ke Terrace Bégon di bagian belakang corderie[9].

Dari ketiga kasus diatas, secara umum dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan sejarah dan budaya lokal dapat diintepretasikan dengan konteks yang bermacam-macam. Bentuk, warna, elemen hardscape maupun softscape, vegetasi- yang merupakan faktor fisik (visual) dari sebuah perancangan lanskap ternyata mampu ditingkatkan kualitasnya dengan menambahkan sebuah ‘cerita’ dibaliknya. Kualitas inipun dapat memiliki dasar perancangan yang kuat, sehingga pengguna hasil rancangan lanskap tersebut mungkin akan dapat secara mudah memahami bukan saja maksud dari si perancang namun juga kisah yang terkandung dari rancangan lanskap tersebut. Dengan keadaan yang demikian, secara otomatis suasana yang unik dan khas pun akan tercipta, dan pengguna akan merasakan perbedaan yang nyata dari rancangan lanskap tersebut walaupun pengguna itu mungkin sudah pernah merasakan hasil dari rancangan si perancang yang sama di tempat lain.


[1] Gibson, Samantha. Local Distinctiveness and the Vernacular Garden. http://www.ihbc.org.uk/context_archive/59/ gazebo_dir

[2] Spirn, Ann Whiston. The Language of Landscape. 1998 (Edit oleh: Swaffield, Simon. Theory in Landscape Architecture. University of Pennsylvania Press. Philadelphia: 2002. Hal 125)

[3] Gibson, Samantha. Local Distinctiveness and the Vernacular Garden. http://www.ihbc.org.uk/context_archive/59/ gazebo_dir

[4] Lyall, Sutherland. Designing the New Landscape. Thames and Hudson. Singapore: 1991. Hal 59

[5] Corner, James. The Hermeneutic Landscape. 1991 (Edit oleh: Swaffield, Simon. Theory in Landscape Architecture. University of Pennsylvania Press. Philadelphia: 2002. Hal 130)

[6] Schwartz, Martha. Landscape and Common Culture Since Modernism (Edit oleh: Treib, Marc. Modern Landscape Architecture: A Critical Review. MIT Press. 1993)

[7] http://www.barragan-foundation.org

[8] Lyall, Sutherland. Designing the New Landscape. Thames and Hudson. Singapore: 1991. Hal 64-67

[9] Lyall, Sutherland. Designing the New Landscape. Thames and Hudson. Singapore: 1991. Hal 76-83

-Published as 1st-assigment for Theories and Methods of Landscape Design-

Pegawai Negeri Sipil

LAMARAN CPNS
saat itu adalah akhir minggu. saya, pasangan saya, dan seorang teman saya sedang berkunjung ke salah satu festival kuliner di kota kami. Lalu datang seorang teman kami yang lain. Dia baru tiba setelah memenuhi panggilan wawancara kerja di kota satelit terdekat. Seorang teman saya bertanya kepada seorang teman kami,

” Mau kerja apa lu di situ ? “

Saya lupa akan simakan jawabannya. Yang pasti tiba-tiba topik beralih kepada PNS. Lalu terjadilah beda pendapat yang cukup sengit antara Seorang Teman Saya (STS) dengan Seorang Teman Kami (STK). Saya pun jadinya ikut terjerumus (tetapi tidak dengan pasangan saya).
Inti dari beda pendapat itu adalah pandangan masing-masing terhadap status PNS. Si STS berpendapat bahwa PNS itu adalah Pemerintah, dimana Pemerintah identik dengan kebusukan dan ketidakbenaran. STS tampaknya sudah apatis dengan kondisi pemerintahan di negara kami. Sedangkan si STK berpendapat bahwa PNS itu sudah tidak seburuk masa-masa yang lalu, sudah ada perbaikan menurutnya. STK tampaknya cukup optimis dengan kondisi pemerintahan yang mulai membaik.
Sedangkan saya ?
Di peristiwa beda pendapat itu saya ternyata memilih untuk berpihak kepada STK. Namun bukannya saya optimis dengan keadaan yang mulai membaik, tapi lebih kepada jawaban akan pertanyaan:

” Kalau bukan saya, siapa lagi ? “

Maksud saya adalah kalau bukan kita-kita yang telah mendapatkan pendidikan sewajarnya di perguruan terbaik bangsa ( ITB dalam contoh kasus saya), siapa lagi yang akan memperbaiki pemerintahan negeri kita sendiri ? Si STS pun ketika saya tanya akan siapa yang harus memperbaiki pemerintahan, dia pun menjawab ya kita-kita ini. Namun STS tetap berpendapat jika kita-kita (yang idealis) ini pun pasti kemungkinan besar akan tenggelam dalam realita yang sudah terpakem dan terbingkai di dunia pemerintahan. Pesimis bisa ya, bisa tidak.
Saya sering mendengar orang-orang (atau bahkan saya sendiri) bilang bahwa:

“Argh..Ga bener ni Pemerintah !”

Keluhan-keluhan yang sebenarnya hanya basa-basi semata. Mengapa? Karena mayoritas yang mengucapkan keluhan itu hanyalah orang yang bisa ngomong tok, hanya berani berbicara dibelakang, tanpa bisa memberi contoh secara konkret tentang bagaimana pemerintah harusnya berperilaku layaknya wakil rakyat sekaligus pemimpin rakyat.
” Kenapa gak lu aja coba jadi bagian dari pemerintah ? “, kalau boleh saya bilang.
” Ahh.. Gak deh. Jangan gue dah. Banyak yang lebih pantes kok :P “, rata-rata jawaban yang ditemui. Andaikata 10 juta manusia Indonesia berpendidikan minimal S1 yang wajar mengatakan jawaban yang serupa, apa yang akan terjadi? Padahal angka 10 juta itu bukanlah perkara yang sulit untuk dicari. Semua hanya ingin hasil yang serba instant, tanpa mau bekerja keras bersama-sama bukan demi harta kekayaan pribadi.
(Ha..ha..kalimat-kalimat saya sudah mulai menjijikan tampaknya)
Kesimpulan yang ingin saya kemukakan adalah ada baiknya jika kita ingin memperbaiki citra negeri ini, haruslah bekerja keras dan bersama-sama. Harus dua-duanya, tidak bisa hanya salah satu. Bagi yang merasa mampu, cobalah mendaftar Calon Pegawai Negeri Sipil sesuai dengan bidang masing-masing. Saya hanya bisa menjamin bahwa kerja keras kita tidak akan muncul dalam waktu dekat, hehe. Tapi niscaya anak cucu kita yang akan merasakan Indonesia yang lebih bermatabat dan hebat.

Dirgahayu 64 Tahun Republik Indonesia.
Jayalah Indonesiaku.
Merdeka !!
cpns-2
PS :
- buat Ibuku, mohon maaf jika nanti setelah saya lulus, saya hanya akan berkarir di Pemkot :P udah ga penting meraup dollar-dollar sing itu :)
- buat Namboru Hasibuan, salut dan kagum dalam memprommosikan PNS walaupun sempat diejek-ejek ideologinya hampir oleh seluruh angkatan :)

in memoriam..

when the sky was in the phase of beauty, that where my deeply lost was something beautiful.

(in memoriam, 6015073 and the rest of them, made in Japan-China-Thailand-Indonesia)

bdGis this a handout ?

:)

z1z2

 soekarno-hatta

wo wohnst du? -in Proklamasistraße.
wo liegt das?? -was?? u don’t know ha’?
memang negara ini diproklamirkan merdeka dimana?
Jakarta la’.
lebih tepatnya daerah mana?
mmm…hihi..
weks.
memang proklamasi daerah mana tuh?
menteng.
elit donk??
was??
emank kalo ditanya daerah mana itu nanya kelurahan yak?
mmm..heh??

————-

the situation

Conversation like that commonly experienced when I talk about where I live. Not exactly like that, but sort of like that. I’ve been living in Proklamasi neighbourhood since I was 3. I am now 24. Quite a long time. Maybe I wouldn’t know either about Proklamasi street or Proclamation Monument if I didn’t live there, maybe only heard it from my History Class on school-nothing more. And why can be that? In my opinion, maybe because that place isn’t as famous as, for example, National Monument (Monas), or Bunderan HI (with its Grand Indonesia, Plaza Indonesia, and EX); despite the quite close distance between all of them.

Proclamation Monument (a.k.a Pola Building) is just located obviously in not-so-great neighbourhood at Menteng, Pegangsaan. Want to know why? Look at it, every afternoon it’s always used as a play ground and a futsal arena for “small” people around it. Actually, Proclamation Monument is surrounded by some of quite-slum neighbourhoods there, with the famous : Anyer clan (which almost always be involved in every gank-wars years ago). Quite nasty bad neighbourhood it was, no sh#t. I remember 11 years ago, it was Puasa period. One early morning I with my friend was on our bicycle-riding suddenly trapped on some gank-war right at side of Proclamation Monument, sweet. I was amazed how many drinking glasses and stones could easily flew and be thrown, then smashed the floor of carpark (maybe some hit some people’s head-I didn’t know).

the boyz

[ Captured at Monumen Proklamasi-Jalan Proklamasi-Kelurahan Pegangsaan-Kecamatan Menteng-JakPus ]

j.co #1

suatu malam saya bermimpi..
aneh tentunya..
diceritakan bahwa saya berada di depan counter sebuah merek dagang terkenal, J.co
diceritakan bahwa saya hendak membeli sesuatu dari produk mereka..
diceritakan bahwa ternyata saya kaget melihat harga-harga dari produk tersebut..
diceritakan bahwa saya seperti tidak ada uang sehingga tidak sanggup membelinya..
tiba-tiba mimpi terputus dan atau tersambung dengan scene yang tidak saya ingat..
sebangunnya saya dari tidur saya waktu itu saya teringat kembali akan mimpi tersebut dan berpikir :
’semiskin itukah keadaan saya saat ini ?’

j.co #2

saya jadi juga teringat keadaan terakhir saya ketika berkunjung ke J.co beberapa waktu silam bersama pasangan saya :
kami hanya memesan 2 buah donat (masing-masing kami 1 buah) dan tanpa memesan minum.
kami hanya ingin sekedar numpang mejeng di sofa coklat-nya mereka.
walaupun secara jujur saya agak tengsin duduk disebelah manusia yang setidaknya memesan 3 buah dan secangkir kopi atau segelas cappucino.
setting J.co pada waktu kejadian itu ada di Kalibata Mall, sebuah mall strata menengah kebawah yang cineplex 21-nya sekarang hanya menampilkan film-film dalam negeri tanpa film mancanegara sedikit pun.
Setelah mengingat kejadian tersebut dan kemudian mengingat mimpi saya sebelumnya, saya pun berpikir untuk kedua kalinya :
’semiskin itukah keadaan saya saat ini ?’

j.co #3

hari ini secara tidak sengaja saya kembali mengunjungi Kalibata Mall. Saya pun kembali teringat pikiran-pikiran saya sebelumnya. Saya pun seperti disepet oleh diri saya sendiri. dan kemudian terdengar suara nyaring seorang lelaki, ” Selamat datang di J.co. Boleh saya bantu pesanannya? “. Saya pun tanpa ampun langsung memesan setengah lusin donat dan segelas cappucino. “Bodo amat dah kalo besok harus narik  ojek. Yang penting gw kagak penasaran.“, pikirku saat itu. Mental masak bodoh dan nekad-ku pun muncul, dan hatiku tertawa lega. Pada akhirnya pun saya dan pasangan tidak menikmatinya di sofa coklat yang empuk itu, melainkan hanya di sebuah taman kecil yang sederhana dan tenang. Yang penting dah kebeli lah…

j.co #4

1 2 3 4 5 #

Older Posts »