Pegawai Negeri Sipil

12 Aug

LAMARAN CPNS
saat itu adalah akhir minggu. saya, pasangan saya, dan seorang teman saya sedang berkunjung ke salah satu festival kuliner di kota kami. Lalu datang seorang teman kami yang lain. Dia baru tiba setelah memenuhi panggilan wawancara kerja di kota satelit terdekat. Seorang teman saya bertanya kepada seorang teman kami,

” Mau kerja apa lu di situ ? “

Saya lupa akan simakan jawabannya. Yang pasti tiba-tiba topik beralih kepada PNS. Lalu terjadilah beda pendapat yang cukup sengit antara Seorang Teman Saya (STS) dengan Seorang Teman Kami (STK). Saya pun jadinya ikut terjerumus (tetapi tidak dengan pasangan saya).
Inti dari beda pendapat itu adalah pandangan masing-masing terhadap status PNS. Si STS berpendapat bahwa PNS itu adalah Pemerintah, dimana Pemerintah identik dengan kebusukan dan ketidakbenaran. STS tampaknya sudah apatis dengan kondisi pemerintahan di negara kami. Sedangkan si STK berpendapat bahwa PNS itu sudah tidak seburuk masa-masa yang lalu, sudah ada perbaikan menurutnya. STK tampaknya cukup optimis dengan kondisi pemerintahan yang mulai membaik.
Sedangkan saya ?
Di peristiwa beda pendapat itu saya ternyata memilih untuk berpihak kepada STK. Namun bukannya saya optimis dengan keadaan yang mulai membaik, tapi lebih kepada jawaban akan pertanyaan:

” Kalau bukan saya, siapa lagi ? “

Maksud saya adalah kalau bukan kita-kita yang telah mendapatkan pendidikan sewajarnya di perguruan terbaik bangsa ( ITB dalam contoh kasus saya), siapa lagi yang akan memperbaiki pemerintahan negeri kita sendiri ? Si STS pun ketika saya tanya akan siapa yang harus memperbaiki pemerintahan, dia pun menjawab ya kita-kita ini. Namun STS tetap berpendapat jika kita-kita (yang idealis) ini pun pasti kemungkinan besar akan tenggelam dalam realita yang sudah terpakem dan terbingkai di dunia pemerintahan. Pesimis bisa ya, bisa tidak.
Saya sering mendengar orang-orang (atau bahkan saya sendiri) bilang bahwa:

“Argh..Ga bener ni Pemerintah !”

Keluhan-keluhan yang sebenarnya hanya basa-basi semata. Mengapa? Karena mayoritas yang mengucapkan keluhan itu hanyalah orang yang bisa ngomong tok, hanya berani berbicara dibelakang, tanpa bisa memberi contoh secara konkret tentang bagaimana pemerintah harusnya berperilaku layaknya wakil rakyat sekaligus pemimpin rakyat.
” Kenapa gak lu aja coba jadi bagian dari pemerintah ? “, kalau boleh saya bilang.
” Ahh.. Gak deh. Jangan gue dah. Banyak yang lebih pantes kok😛 “, rata-rata jawaban yang ditemui. Andaikata 10 juta manusia Indonesia berpendidikan minimal S1 yang wajar mengatakan jawaban yang serupa, apa yang akan terjadi? Padahal angka 10 juta itu bukanlah perkara yang sulit untuk dicari. Semua hanya ingin hasil yang serba instant, tanpa mau bekerja keras bersama-sama bukan demi harta kekayaan pribadi.
(Ha..ha..kalimat-kalimat saya sudah mulai menjijikan tampaknya)
Kesimpulan yang ingin saya kemukakan adalah ada baiknya jika kita ingin memperbaiki citra negeri ini, haruslah bekerja keras dan bersama-sama. Harus dua-duanya, tidak bisa hanya salah satu. Bagi yang merasa mampu, cobalah mendaftar Calon Pegawai Negeri Sipil sesuai dengan bidang masing-masing. Saya hanya bisa menjamin bahwa kerja keras kita tidak akan muncul dalam waktu dekat, hehe. Tapi niscaya anak cucu kita yang akan merasakan Indonesia yang lebih bermatabat dan hebat.

Dirgahayu 64 Tahun Republik Indonesia.
Jayalah Indonesiaku.
Merdeka !!
cpns-2
PS :
– buat Ibuku, mohon maaf jika nanti setelah saya lulus, saya hanya akan berkarir di Pemkot😛 udah ga penting meraup dollar-dollar sing itu🙂
– buat Namboru Hasibuan, salut dan kagum dalam memprommosikan PNS walaupun sempat diejek-ejek ideologinya hampir oleh seluruh angkatan🙂

3 Responses to “Pegawai Negeri Sipil”

  1. heyheyhey August 24, 2009 at 11:45 pm #

    absolutely…like this!!!
    \m/

  2. Wiwied November 8, 2009 at 3:26 pm #

    Tetep salut …. pokoknya apapun pekerjaannya,,, do as perferct as always, Nggul.. hehehehe

  3. Aster December 30, 2009 at 9:24 pm #

    Pilih Pemkot yang punya visi jelas..biar ga nyesel🙂
    Hidup negaraku !
    Soalnya di negri orang image Indonesia udah jelek aja, jadi kita kesana pun tetap aja dianggep tenaga kerja kelas sekian..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: