Kekhasan Sejarah dan Budaya Lokal sebagai Sebuah Pendekatan dalam Perancangan Lanskap..

12 Jan

Apakah yang membedakan karya lanskap yang satu dengan yang lainnya? Terlepas dari itu apakah fungsi lanskap untuk pribadi maupun untuk masyarakat umum. Jika kami sebagai masyarakat awam ataupun akademisi yang belum terlalu mengerti dengan seluk beluk perancangan lanskap, mungkin akan secara gamblang menjawab bahwa yang membedakan adalah masing-masing ciri dan gaya dari si perancang lanskap tersebut, tanpa tahu sebenarnya hal-hal apa sajakah yang mendasari si perancang tersebut. Perancang A mungkin dikenal dengan gaya perancangan kontemporer pada wilayah lanskap publik, atau perancang B dikenal dengan pendekatan gaya minimalis pada wilayah lanskap pribadi (atau lebih tepatnya taman pribadi), ataupun perancang C dikenal gemar memakai pendekatan klasik dan formal pada karya-karya lanskapnya. Tetapi apakah itu dapat menjadikan suatu karya lanskap menjadi sesuatu yang unik dan khas?

Untuk konteks sebagai pembeda dari salah satu perancang lanskap dengan perancang yang lain, mungkin pertanyaan diatas dapat dijawab dengan pernyataan positif. Namun untuk konteks perancang lanskap yang sama dengan wilayah perancangan lanskap yang berbeda, jawaban pasti akan berbeda. Merancang pada wilayah X dengan merancang pada wilayah Y tentu akan ada perbedaannya; dan jelas bahwa perbedaan itu bukan datang dari faktor siapakah yang merancang (karena pada umumnya perancang tertentu sudah memiliki gaya dan ciri yang tetap), namun datang dari apakah dan darimana yang akan dirancang; dan inilah yang mungkin diartikan sebagai kekhasan lokal.

Kekhasan lokal (dengan konteks lanskap) adalah tentang apa yang membuat kelokalan tersebut berbeda dengan apa yang ada di sekelilingnya dan apa yang membuatnya menjadi spesial[1]. Hal yang diungkapkan oleh Samantha Gibson tersebut mungkin dapat diartikan bahwa setiap komponen lokal dapat menjadi potensi dalam sebuah perancangan lanskap. Topografi, vegetasi, ekosistem, material alam, serta sejarah, budaya, dan bahkan ekonomi mungkin dapat termasuk dalam komponen tersebut. Terlepas dari komponen-komponen tersebut, suatu lanskap (yang dikatakan memiliki semua fitur bahasa[2]) dapat dikelompokan dalam ‘bahasa‘ atau faktor fisik maupun non-fisik. Secara fisik, karakter lokal sebuah wilayah lanskap mungkin dapat dilihat atau dikenali dengan lebih mudah; vegetasi apakah yang menjadi ciri wilayah tersebut, kemiringan topografi pada wilayah tersebut, jenis tanah dan jenis batuan, serta material yang sudah tersedia. Namun bagaimanakah dengan sesuatu yang non-fisik? Apakah faktor tersebut dirasa cukup penting dalam menentukan kekhasan suatu perancangan lanskap?

Ketika dikaitkan dengan faktor ekonomi, kekhasan sebuah wilayah lanskap mungkin dapat dikaitkan dengan apakah wilayah tersebut berpengaruh dalam proses produksi kapital dari wilayah tersebut. Hal ini umumnya terjadi pada daerah pertanian atau perkebunan atau justru pertambangan. Namun pada umumnya juga bila dikaitkan dengan perancangan sebuah lanskap, faktor non-fisik ini justru jauh lebih dipentingkan daripada faktor fisik tersebut, sehingga terlihat sebuah ketidaksalingdukungan antara kedua faktor tersebut; sedangkan alangkah baiknya jika kedua faktor (fisik dan non-fisik) lanskap ini dapat saling mendukung. Perubahan konteks pandangan tentang sebuah karya lanskap yang dirancang yang sebelumnya dianggap terlalu menitikberatkan pada hal ekonomis dan praktis menjadi hampir sepenuhnya dekoratif[3] pun menjadikan para perancang lanskap untuk mulai meninggalkan faktor ekonomi sebagai dasar dari sebuah perancangan; kecuali hal bahwa setiap perancang (terutama dalam konteks perancangan wilayah lanskap pribadi) memperhatikan kemauan-kemauan si pemilik wilayah (yang dianggap sebagai pemberi bayaran kepada perancang) dianggap sebagai faktor ekonomi.

Faktor non-fisik kelokalan yang lain adalah sejarah dan budaya. Kedua faktor ini sulit dipisahkan karena memang sulit melihat budaya terlepas dari sejarah dan sebaliknya. Kedua faktor inilah yang menurut kami (penulis) sebagai faktor non-fisik terpenting yang dapat mendukung faktor fisik (atau visual) dalam menentukan rancangan sebuah karya lanskap yang khas. Mengapa? Didalam bukunya, Sutherland Lyall menyebutkan bahwa terdapat pemikiran tentang lingkungan lanskap yang melebihi dari hanya sekedar visual, namun sebuah lingkungan lanskap juga memiliki sebuah resonansi budaya dan sejarah yang tidak bisa diacuhkan[4]. Sedangkan menurut James Corner, lanskap tidak hanya merupakan femomena fisik, tetapi juga merupakan sebuah skema kultural, sebuah filter konseptual dimana hubungan kita dengan alam bebas dapat dimengerti[5]. Setiap wilayah perancangan lanskap tentu memiliki ’cerita‘nya masing-masing; dan ’cerita’ tersebut tentu akan semakin bercerita jika faktor non-fisik tersebut dipadukan dengan faktor fisik daerah tersebut dan pada akhirnya diintervensi oleh sebuah karya perancangan lanskap. Perpaduan inilah yang menjadikan sebuah karya rancangan lanskap pada suatu wilayah akan terasa sangat khas.

Menerapkan sejarah dan budaya ke dalam lanskap tidak hanya dengan memasukkan elemen-elemen dari luar tapak, tapi juga dengan sebisa mungkin memelihara apa yang sudah ada di tapak tersebut. Menurut Marta Schwartz, beberapa perancang lanskap meyakini bahwa lanskap juga dapat berperan sebagai artefak budaya, ekspresi budaya kontemporer, dan terbuat dari material-material modern. Bahasa lanskap dalam mengekspresikan budaya dan sejarah lokal di daerahnya tidak hanya diterjemahkan dalam elemen-elemen natural, tapi juga dari elemen buatan seperti, beton, aspal, plastik, dan material modern lainnya[6]. Dengan mengedepankan sejarah dan budaya lokal dalam merancang sebuah lanskap, diharapkan nilai-nilai luhur daerah tersebut dapat dipelihara dan direfleksikan oleh masyarakatnya. Untuk lebih memperjelas pernyataan-pernyataan dalam tuliskan ini, ada baiknya kami (penulis) memberikan contoh-contoh sebagai berikut.

Contoh kasus yang pertama adalah Jardines del Pedregal (El Pedregal) karya Luis Barrágan. Tapak El Pedregal berlokasi di pinggiran kota New Mexico, di atas bekas lahan lava yang sudah mengeras. Barrágan bermaksud untuk membuat sebuah kompleks residensial di mana pada masing-masing rumah akan terdapat taman yang bersifat privat. Dalam merancang lanskap El Pedregal, Barrágan melestarikan elemen-elemen yang ada, seperti bentuk batuan-batuan lava, dan mengkombinasikannya dengan vegetasi-vegetasi lokal yang khas di daerah tersebut. Selain dalam konteks elemen naturalnya, elemen buatan dalam lanskap El Pedregal ini juga menerapkan budaya lokalnya, dalam kasus ini adalah konteks budaya sejarah Mexico[7]. Barrágan dikenal dengan ciri khas karyanya yang beragam warna. Warna-warna yang digunakan Barrágan dalam karya-karyanya diambil dari sejarah Mexico itu sendiri, di mana sebelum menjadi daerah kolonial Spanyol, Mexico dahulunya adalah merupakan wilayah Teotihuacan. Teotihuacan sendiri banyak mengkombinasikan warna-warna dalam budayanya. Warna-warna inilah yang digunakan Barragan dalam merepresentasikan budaya Mexico dalam karyanya yang mayoritas juga berlokasi di Mexico.

Contoh kasus yang kedua adalah San Jose Plaza Park karya George Hargreaves. Pada kasus ini Hargreaves diminta oleh aparat pemerintahan kota San Jose untuk merancang sebuah lanskap untuk ruang terbuka tertua di kota tersebut. Penerapan pendekatan terhadap sejarah dan budaya terlihat ketika Hargreaves yang menempatkan titik-titik water jet pada plaza taman sebagai referensi dari sumur-sumur artesian yang pernah ada di dekat tapak pada awal tahun 1800an. Semburan air dari water jet tersebut yang semakin sore semakin tinggi merupakan metafor yang melambangkan sejarah Santa Clara Valley yang terus berkembang. Orchard juga dipakai untuk mengingatkan akan adanya kebun buah-buahan yang subur di sekitarnya. Terdapat juga tiang-tiang lampu bergaya kuno yang melambangkan sejarah kota yang sudah 300 tahun berdiri. Sedangkan adanya fitur air mancur yang menyala merujuk kepada teknologi tinggi dari Silicon Valley[8].

Contoh kasus yang ketiga adalah Le Parc de la Corderie Royale karya Bernard Lassus. Lassus memenangkan kompetisi nasional untuk membuat lanskap di daerah restorasi Corderie Royale de Rochefort. Rochefort dulunya dirancang sebagai pabrik tali (corderie) untuk angkatan laut Louis XIV, lalu dikembangkan oleh Colbert sebagai gudang senjata angkatan laut. Lassus lalu mengangkat tentang hubungan antara pabrik tali dan laut. Dengan membuka tiga ruang besar dalam vegetasi yang sudah tumbuh di sepanjang bantaran sungai, Lassus mengembalikan hubungan antara bangunan dan sungai. Terdapat juga galeri tanaman outdoor exotic, yang merujuk kepada spesimen botanik yang dibawa pada abad 17. Untuk membuat hubungan antara tapak ke kota, salah satu solusinya adalah dengan membuat jalan langsung dari kota ke tengah corderie. Namun menurut Lassus, bangunan corderie ini tidak pernah menjadi bangunan yang monumental melainkan industrial. Oleh karena itu, Lassus memberikan solusi dengan membuat ramp besar yang menghubungkan kota bagian luar di sebelah utara ke Terrace Bégon di bagian belakang corderie[9].

Dari ketiga kasus diatas, secara umum dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan sejarah dan budaya lokal dapat diintepretasikan dengan konteks yang bermacam-macam. Bentuk, warna, elemen hardscape maupun softscape, vegetasi- yang merupakan faktor fisik (visual) dari sebuah perancangan lanskap ternyata mampu ditingkatkan kualitasnya dengan menambahkan sebuah ‘cerita’ dibaliknya. Kualitas inipun dapat memiliki dasar perancangan yang kuat, sehingga pengguna hasil rancangan lanskap tersebut mungkin akan dapat secara mudah memahami bukan saja maksud dari si perancang namun juga kisah yang terkandung dari rancangan lanskap tersebut. Dengan keadaan yang demikian, secara otomatis suasana yang unik dan khas pun akan tercipta, dan pengguna akan merasakan perbedaan yang nyata dari rancangan lanskap tersebut walaupun pengguna itu mungkin sudah pernah merasakan hasil dari rancangan si perancang yang sama di tempat lain.


[1] Gibson, Samantha. Local Distinctiveness and the Vernacular Garden. http://www.ihbc.org.uk/context_archive/59/ gazebo_dir

[2] Spirn, Ann Whiston. The Language of Landscape. 1998 (Edit oleh: Swaffield, Simon. Theory in Landscape Architecture. University of Pennsylvania Press. Philadelphia: 2002. Hal 125)

[3] Gibson, Samantha. Local Distinctiveness and the Vernacular Garden. http://www.ihbc.org.uk/context_archive/59/ gazebo_dir

[4] Lyall, Sutherland. Designing the New Landscape. Thames and Hudson. Singapore: 1991. Hal 59

[5] Corner, James. The Hermeneutic Landscape. 1991 (Edit oleh: Swaffield, Simon. Theory in Landscape Architecture. University of Pennsylvania Press. Philadelphia: 2002. Hal 130)

[6] Schwartz, Martha. Landscape and Common Culture Since Modernism (Edit oleh: Treib, Marc. Modern Landscape Architecture: A Critical Review. MIT Press. 1993)

[7] http://www.barragan-foundation.org

[8] Lyall, Sutherland. Designing the New Landscape. Thames and Hudson. Singapore: 1991. Hal 64-67

[9] Lyall, Sutherland. Designing the New Landscape. Thames and Hudson. Singapore: 1991. Hal 76-83

-Published as 1st-assigment for Theories and Methods of Landscape Design-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: