Merasakan Lahan Tapak: Mengasah Kepekaaan Sensual Ketika Berada di Tapak Perancangan

1 Apr

Kalimat anak judul di atas pertama kali saya temukan ketika secara tidak sengaja melihat-lihat sebuah artikel mengenai pembahasan suatu tugas survei arsitektur di situs blog seseorang. Pernyataan kalimat itu seperti menyentil pemikiran saya dikarenakan selama ini, ketika saya sedang berada di dalam lahan tapak yang akan dirancang, yang saya lakukan adalah lebih kepada hanya pengambilan data-data yang dibutuhkan dengan dapat dikatakan terburu-buru sehingga diharapkan nantinya saya tidak akan sampai harus kembali kesana lebih dari sepuluh kali. Saya mencatat letak-letak bangunan eksisting, vegetasi eksisting, infrastruktur eksisting, dan berbagai komponen eksisting lainnya. Kemudian hal lain yang dilakukan adalah dengan memfoto dengan tidak mengindahkan jumlah frame yang dihabiskan mengenai titik-titik penting pada lahan tapak yang akan dirancang tersebut. Setelah semuanya dilakukan, lazimnya saya akan segera beranjak menuju lokasi (jika masih ada tenaga) dimana data-data yang sudah didapat tersebut akan diproses menjadi sebuah analisis tapak sehingga nantinya dapat digunakan acuan di dalam merancang.

Sudah cukupkah usaha-usaha tersebut dikatakan sebagai usaha merasakan lahan tapak? Orang-orang bijak mungkin akan mengatakan bahwa usaha tersebut tidaklah cukup. Mereka mungkin akan mengatakan bahwa sebagai seorang perancang seharusnya juga memiliki usaha kepekaan dimana dapat merasakan dan memahami hal-hal yang tidak terlihat maupun yang tidak teraba –dalam konteks ini sering disebut sebagai faktor-faktor intangible. Seberapapentingnyakah faktor-faktor intangible seperti angin atau panas terutama jika kita bandingkan faktor tersebut dengan faktor intangible yang lain –waktu?

Kita mungkin akan langsung menyadari jika kita berada dekat dengan lokasi lahan tapak yang menjadi objek perancangan kita maka proses pengenalan pun akan berjalan dengan lebih mudah tanpa kesulitan yang begitu besar (apakah karena waktu ataupun kesempatan). Namun bagaimanakah dengan keadaan dimana lokasi lahan tapak tersebut berada di daerah yang jauh dari lokasi kehidupan kita (seperti luar negeri maupun di suatu pulau yang terpencil)? Akhirnya kemajuan teknologi disinyalir sebagai penyelamat untuk kasus-kasus seperti ini. Dunia mengenal adanya teknologi internet yang dapat memberikan kepada kita hampir segala informasi yang kita butuhkan secara cepat dan efektif. Dunia juga mengenal adanya teknologi pencitraan satelit yang dapat memberikan kepada kita pemandangan dari atas segala tempat yang hendak kita cari. Namun dibalik itu semua, apakah sebenarnya kemajuan teknologi ini dapat menggantikan segala kebutuhan kita dalam mengenal sebuah lahan tapak perancangan? Ataukah sebenarnya kesemua itu merupakan sebuah pelengkap?

Seperti layaknya kita hendak bepergian menuju suatu tempat yang asing pada masa sekarang, sudah menjadi keharusan kita untuk melakukan peninjauan secara tidak langsung mengenai tempat tersebut. Kita dapat membaca referensi akan tempat tersebut baik melalui kerabat kita maupun melalui teknologi –membaca pengalaman atau cerita orang lain melalui situs-situs maya ataupun blog yang pada saat sekarang sudah mulai marak. Kita juga dapat dengan mudah melihat pencitraan atau foto-foto mengenai tempat tersebut dari kepemilikan orang lain. Kita pun dapat melihat citra satelit akan tempat yang kita maksud secara gratis. Namun sepaham apapun kita melalui peninjauan secara tidak langsung ini -selama kita belum berada di sana, kita belum merasakan tempat tersebut dan tidak akan pernah.

Kita tentu mengenal istilah sisi objektif dan subjektif. Hal ini pun berlaku pada suatu tempat. Setinggi-tingginya keobjektivitasan suatu tempat (dapat terlihat dari berbagai sumber yang ada) tetaplah tempat tersebut membutuhkan suatu kesubjektivitasan –dan tentu ini diharapkan berbeda dari setiap penikmatnya (dalam hal ini adalah manusia). Hal inilah yang memacu timbulnya variasi pendapat; dan keadaan ini penting sehingga tiap kesubjektivitasan dapat menjadi tambahan sesuatu yang khas terhadap tempat tersebut. Begitu pula dengan sebuah lahan tapak perancangan. Disamping nilai, fakta, serta data-data objektif yang terkait dengan lahan tersebut, tetap saja dibutuhkan sesuatu yang subjektif –dalam konteks ini yang berasal dari penilaian sang perancang. Bisa dikatakan bahwa perpaduan keobjektivitasan dengan kesubjektivitasan inilah yang nantinya akan menghasilkan sebuah hasil akhir yang ideal -ditambah apabila perpaduan ini tidak terjadi hanya pada faktor yang tangible tetapi juga pada yang intangible.

Permasalahan sekarang yang berikutnya adalah bagaimana menilai ketepatan kesubjektivitasan kita tersebut. Hasil pun yang akan “berbicara“ kepada pengguna. Pengguna sebagai penikmat hasil dari suatu perancangan tentu merasakan sebuah sensasi hasil pengolahan lahan tapak perancangan; apakah itu rumah tinggal, taman kota, kompleks relokasi, dan lain-lain –baik skala kecil maupun skala besar. Senang, bahagia, puas, kecewa, tidak puas; ekspresi tersebut wajar ditemui terutama jika penggunanya merupakan pengguna jamak. Keadaan-keadaan inilah (atau lebih sering disebut pengalaman) yang umumnya menjadi masukan yang berharga bagi sang perancang (dalam konteks manusia pembelajar) sehingga dapat mampu mempertajam kemampuan kesubjektivitasannya.

Saya teringat akan satu perancangan sebuah resort di Bali yang dilakukan oleh Popo Danes, salah satu perancang (arsitek) terkemuka di negara kita. Saat itu hasil rancangan beliau, Natura Resort, baru saja dianugrahi sebagai bangunan hemat energi oleh komite ASEAN Energy Award. Mungkin sudah banyak dari kita yang tahu bagaimana dan mengapa beliau dengan karyanya tersebut dapat meraih penghargaan tersebut; penempatan massa bangunan yang efektif pada lahan tapak, optimalisasi penggunaan penghawaan buatan, penggunaan pohon eksisting sebagai “payung“ alami, penggunaan atap tradisional sebagai insulator panas, dan lain sebagainya. Namun yang menjadi perhatian saya adalah bagaimana beliau dapat menghasilkan ide-ide dan keputusan-keputusan perancangan di saat lahan tapak perancangan tersebut masih kosong atau belum terjamah. Sebagian dari kita mungkin akan tercengang apabila mengetahui bahwa ketika di saat lahan masih kosong tersebut sang perancang ternyata melakukan pengamatan (survei) lapangan dengan cara “bertapa“ di tempat tersebut selama berhari-hari. Istilah “bertapa“ di sini mungkin secara sederhana dapat diartikan sebagai tinggal di dalam lahan tapak perancangan.

Sang perancang di sini seakan-akan benar-benar merasakan lahan yang akan dirancangnya. Beliau mungkin sudah melakukan observasi secara tidak langsung mengenai objek yang akan dirancangnya melalui berbagai media. Namun tetap saja semua itu bagi beliau hanyalah sebagai bumbu pelengkap –beliau belum merasa yakin jika belum “tinggal“ di dalamnya. Beliau serasa menggunakan kepekaan sensualnya dengan ingin merasakan secara langsung fenomena-fenomena eksisting yang terjadi di tempat itu; merasakan peralihan-peralihan keadaan dari waktu ke waktu; mencari potensi-potensi tersembunyi yang tidak mudah untuk disadari; “mendengar“ apa yang dikehendaki oleh lahan tapak itu sendiri –yang kesemua itu dapat dikatakan sebagai sebuah bagian penting dari pencarian Genius Loci dari tempat tersebut. Beliau serasa ingin lebih mengedepankan “Living with Nature“ daripada sekedar “Design with Nature“. Mungkin pendekatan beliau ini akan terdengar cukup mistis. Saya pun juga tercengang saat mengetahui metode Popo Danes ini dikarenakan selama lebih dari tujuh tahun saya bergelut di dalam dunia perancangan belum pernah saya mendengar, membaca, diajari, terlebih mengalami metode pendekatan merasakan lahan tapak yang seperti ini.

Bagi kebanyakan dari kita akan merasa cara-cara ini akan menjenuhkan, membosankan, ataupun sedikit menakutkan. Namun apabila kita tilik lebih dalam, mungkin metode tersebut ada benarnya; karena jika bukan si perancangnya terlebih dahulu yang merasakan semua hal tersebut, siapa lagi? Jika sang perancang saja enggan untuk berbosan-bosan bahkan berjenuh-jenuh, bagaimana hal itu dapat diharapkan dari calon pengguna? Proses-proses inilah yang diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara sisi objektif dengan sisi subjektif dari suatu lahan tapak perancangan sehingga nantinya menghasilkan hasil karya yang sempurna. Hal inipun yang terjadi pada Natura Resort –hasil yang “berbicara“.

Metode merasakan lahan tapak seperti ini dapat dikatakan juga sebagai metode yang tepat apabila dikaitkan dengan problem jangka waktu dan kesempatan. Jika lokasi lahan berada di tepat yang jauh dan kita sebagai perancang tidak memiliki waktu yang banyak untuk berada di lokasi tersebut, bukankah metode untuk “tinggal“ di dalam lahan tapak merupakan salah satu cara yang efektif untuk menyiasati problematika ini? Satu hal ini yang terlupakan oleh saya ketika menangani sebuah tugas perancangan lahan pasca tambang timah di pulau Bangka. Saat itu seperti tidak terpikir jika kita hanya memiliki dua hari yang efektif untuk melakukan peninjauan, alangkah lebih baik apabila kita terjun langsung dan tinggal di dalam lahan tapak perancangan daripada hanya berkunjung satu dua kali dengan menghabiskan dana untuk transportasi serta akomodasi di sebuah penginapan yang terbilang jauh dari lokasi.

Mungkin jika kita tinggal di dalam lahan tapak, kita akan hanya bermodalkan tenda lusuh dengan penerangan seadanya; kita mungkin tidak akan dapat membersihkan badan kita (mandi) sesering apabila kita berada di suatu penginapan. Tetapi bukankah itu salah satu bagian dari penghematan yang ramah lingkungan yang seperti sudah menjadi “tren“ perancangan pada masa sekarang? Apabila kita “tinggal“ di dalam tapak, kita pasti akan merasakan sebagian besar fenomena yang terjadi di dalamnya. Kita tentu akan merasakan berbagai sensasi di dalam lokasi tersebut: apakah itu panas, hujan, kekeringan, kerimbunan; baik itu pagi, siang, sore, maupun malam. Konsekuensi ini tentu akan melelahkan. Namun jika ini dikaitkan kembali dengan konteks manusia pembelajar, hal tersebut pastilah akan berguna banyak. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, keadaan ini tidak berlaku bagi saya saat itu; dan akhirnya hasil “berbicara“ kepada sang perancang: bicara ketidakpuasan.

Segala hal yang telah dipaparkan dari awal tulisan ini mungkin secara tidak langsung mengarah kepada perilaku. Segala problematika yang ada berawal dari perilaku. Bagaimana perilaku manusia dalam menghadapi tantangan yang diperhadapkan kepadanya; bagaimana perilaku dalam menjawab permasalahan yang ada –dimana kesemua perilaku ini adalah langkah awal yang terpenting dari suatu tindakan. Berbagai idealisme di dalam kehidupan seperti green design, sustainbility, ramah lingkungan, “living with nature”, serta yang lainnya tidak akan berarti jika hanya didukung oleh perilaku yang hanya “setengah jadi”. Optimalisasi idealisme pun hanya akan terasa seperti skenario-skenario buatan yang dijadikan alasan untuk pembelajaran. Jika kita ingin merasakan sesuatu, jika kita ingin melatih kepekaan sensual terhadap sesuatu , maka hiduplah di dalam sesuatu tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: