Perubahan Infrastruktur Lanskap dalam Upaya Memenuhi Kebutuhan Ekologis Masyarakat Perkotaan yang Berkelanjutan

25 Oct

AR-6141_Arsitektur Budaya dan Pembangunan

Program Studi Arsitektur, Institut Teknologi Bandung

[Oleh: Dicke Nazzary Akbar, Reagen Mulia, Samuel Unggul Natigor]

Abstrak- Manusia saat ini tidak dapat lepas dengan konteks kota. Manusia rela untuk berurbanisasi ke kota demi mendapatkan taraf hidup yang lebih baik. Namun urbanisasi yang berlebihan seringkali dijadikan “tersangka“ yang bertanggung jawab atas permasalahan-permasalahan baik sosial maupun lingkungan yang terjadi di kota. Latar belakang ini yang mendasari mengapa masyarakat perkotaan membutuhkan kedekatan yang harmonis terhadap alam –melahirkan kebutuhan ekologis dengan infrastruktur lanskap sebagai perwujudannya. Seiring perubahan jaman, pola kebutuhan akan infrastruktur lanskap juga mengalami perubahan –yang secara garis besar disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu manusia dan alam itu sendiri. Kedua kasus pada makalah ini lebih menekankan kepada contoh pengaruh keadaan sosial serta budaya masyarakat setempat saat itu dalam perubahan infrastruktur lanskap kota. Contoh pertama adalah proyek penelitian pembangunan jembatan Ellis Island, New York. Inti dari penelitian ini adalah untuk menemukan bagaimana reaksi masyarakat lokal dalam usulan proyek tersebut –menunjukkan bahwa interaksi dengan masyarakat sebagai pengguna utama mempunyai peran paling penting dalam perubahan infrastruktur lanskap yang dapat memberikan hasil yang lebih tepat sasaran. Contoh kedua adalah proyek restorasi sungai Cheonggyechon, Seoul –dimana keadaan sebelum restorasi, sungai ini merupakan aliran sungai yang tertutupi oleh infrastruktur jalan layang. Memang jalan tol dipandang sebagai sebuah sistem infrastruktur yang penting dalam sebuah kota. Namun infrastruktur ini seringkali menutupi kebutuhan ekologis akan ruang terbuka hijau dan seringkali juga ditemukan bahwa jalan tol dibangun di atas area yang mempunyai nilai historis. Dengan proyek ini, ruang hijau terbuka di tengah kota akan tercipta kembali serta mengembalikan hubungan antara manusia dengan alam.

Kata kunci: masyarakat perkotaan, kebutuhan ekologis, infrastruktur lanskap, perubahan.

I.          PENDAHULUAN

Saat ini, keberadaan manusia sudah tidak dapat lepas dengan konteks dunia perkotaan. Sejak tahun 2007, sudah lebih dari 50% populasi manusia di dunia yang tinggal di perkotaan. Hal ini tentu telah menjadi peristiwa yang cukup penting dalam peradaban manusia mengingat angka prosentase populasi tersebut hanyalah sebesar 2% pada periode awal abad ke 19; serta meningkat menjadi 30% sejak periode tahun 1950. Wilayah perkotaan, yang hanya memiliki luas 3% dari permukaan bumi namun menampung lebih dari separuh populasi dunia, telah menjelma menjadi pusat dari transformasi budaya sosial, mesin pertumbuhan ekonomi, serta tempat terciptanya inovasi dan pengetahuan (Wu, 2009). Satu hal yang telah menjadi budaya manusia yang universal, yaitu manusia rela berbondong-bondong untuk tinggal dan bekerja di wilayah perkotaan demi mendapatkan taraf kehidupan yang lebih baik.

Namun dibalik segala potensi tersebut, urbanisasi terhadap lingkungan perkotaan –ekspansi spasial secara padat terhadap lingkungan terbangun oleh manusia dan segala kegiatan sosio-ekonomi mereka –telah seringkali dijadikan “tersangka“ yang bertanggung jawab atas permasalahan-permasalahan baik sosial maupun lingkungan yang terjadi akibat dari proses budaya tersebut (Wu, 2009). Menurut Dascălu (2007) di dalam jurnalnya menuliskan bahwa  budaya “bekerja“ yang terjadi di dalam lingkup konteks perkotaan ini sudah banyak membawa efek-efek yang merusak kehidupan perkotaaan itu sendiri; diantaranya adalah terjadinya area urban yang terpolusi yang dikenal dengan nama “megapolis“, area terbangun maupun area alami yang mengalami degradasi, destrukturalisasi sosial, penyakit fisik ataupun psikis (stress) yang dialami warga kota, rasisme dan agresivitas yang berlebihan, keserakahan dan kemiskinan, dan lain-lain.

Terdapat kemungkinan bahwa efek-efek yang merusak tersebut terjadi akibat adanya hubungan yang tidak harmonis antara budaya “bekerja“ masyarakat perkotaan tersebut dengan lingkungan alam di sekitarnya. Seperti yang diungkap oleh Byrne (2009) tentang beberapa ahli lingkungan yang telah menyadari bahwa setiap permasalahan perkotaaan, terutama permasalahan sosial, mempunyai akar permasalahan yang terkait dengan lingkungan di sekitarnya (konteks ekologis). Kehidupan masyarakat perkotaan akan lebih berkualitas, lebih “sehat“, lebih bermoral, lebih berjiwa sosial, lebih bijaksana, serta lebih pintar apabila dihadapkan dengan lingkungan sekitar yang tepat dan serasi; hal yang bertolak belakang apabila kehidupan tersebut dihadapkan dengan lingkungan yang kurang serasi (Byrne, 2009).

Latar belakang inilah yang mendasari mengapa masyarakat perkotaan membutuhkan kedekatan yang harmonis terhadap alam –lingkungan alami yang dianggap ”menyehatkan“. Kebutuhan yang dapat dikatakan bersifat ekologis ini telah menjadi salah satu kebutuhan yang umum terutama bagi masyarakat perkotaan modern saat ini –kebutuhan manusia sebagai bagian dari alam, untuk dekat dengan alam, berada pada suatu “ruang” yang beratapkan langit (Nasution, 2003). Kemunculan fenomena kebutuhan ekologis ini seakan sudah menjadi bagian dari kebudayaan baru. Semakin tinggi tingkat urbanisasi yang terjadi, akan semakin tinggi pula tingkat kebutuhan ekologis masyarakat kota tersebut (Casagrande, 2001). Kebutuhan ekologis ini menyebabkan peran dari arsitektur lanskap perkotaan menjadi sangat penting terhadap budaya masyarakatnya –dimana arsitektur lanskap diharapkan dapat membawa atau memasukkan budaya perkotaan sebagai bagian yang harmonis dan sinergis terhadap alam (Dascălu, 2007).

Contoh tipologi yang paling umum dari infrastruktur lanskap yang dikaitkan dengan pemenuhan kebutuhan ekologis ini tidak lain adalah taman kota. Pada awal konsep taman kota (yang bersifat publik) ini diperkenalkan, tipologi ini dirancang sebagai “tempat pelarian“ warga kota dari kehidupan bekerjanya sehari-hari dimana tempat ini memiliki kualitas estetis dalam mensimulasikan sebuah lingkungan yang terdapat pada area rural –dimana suasana daerah rural yang dikelilingi oleh lingkungan alami yang masih asri tersebut diyakini dapat memberikan kesan romantisme serta dipercaya dapat memberikan efek pembangkit ataupun penyehat bagi jiwa manusia (Low, 2005).

II.        DINAMIKA PERUBAHAN INFRASTRUKTUR LANSKAP PERKOTAAN

Sejalan dengan perubahan jaman dan seperti layaknya kebutuhan-kebutuhan manusia pada umumnya, pola penggunaan dan kebutuhan masyarakat perkotaan akan infrastruktur lanskap juga mengalami perubahan. Keadaan ini sebenarnya merupakan keadaan yang wajar mengingat segala aspek di dunia akan mengalami perubahan seiring dengan waktu. Hal-hal yang mempengaruhi perubahan pola penggunaan dan terutama kebutuhan akan infrastruktur lanskap ini secara garis besar disebabkan oleh dua faktor utama; yaitu faktor yang disebabkan oleh manusia beserta kegiatannya dan yang disebabkan oleh alam itu sendiri.

Perubahan infrastruktur lanskap yang disebabkan oleh manusia umumnya dipengaruhi oleh kekuatan politik, ekonomi, sosial, serta teknologi (Nasution, 2003). Dari empat kekuatan tersebut, dapat dikatakan bahwa kekuatan ekonomi dan sosial merupakan pengaruh yang utama –bahwa kedua pengaruh utama inilah yang juga mempengaruhi politik serta teknologi. Keadaan ini diperkuat oleh Antrop (2005) melalui teorinya yang menyebutkan bahwa infrastruktur lanskap berkembang secara terus-menerus serta merefleksikan kebutuhan ekonomi dan sosial dari masyarakat pada rentang periode tertentu. Perubahan infrastruktur lanskap sangat dideter-minasikan oleh kekuatan ekonomi global, dan lebih khususnya oleh situasi geografi serta aksesbilitas terhadap semua tempat yang terdapat pada jaringan global kota-kota dunia (Antrop, 2005).

Setiap elemen dari peradaban manusia (termasuk masyarakat perkotaan), mulai dari kemunculannya sampai perkembangannya hingga sekarang, memiliki tipe kebiasaan atau perilaku yang berbeda-beda (Dascălu, 2007). Keadaan sosial masyarakat akan terus mengalami perubahan dari masa ke masa, dan budaya masyarakat pun akan terus mengalami perkembangan. Hal ini pun mendasari mengapa kebutuhan akan infrastruktur lanskap juga akan ikut berubah –kebutuhan saat dahulu dinilai akan berbeda dengan saat sekarang maupun masa yang akan datang. Dapat dikatakan bahwa karakter dari infrastruktur lanskap dipertimbangkan sebagai ekspresi identitas yang unik dari suatu daerah atau kawasan yang dibentuk oleh (budaya) manusia yang berkehidupan di tempat tersebut saat itu (Antrop, 2005). Pengaruh budaya terhadap infrastruktur lanskap ini secara luas juga diungkapkan oleh Nassauer (1995) yang menyebutkan bahwa ketentuan-ketentuan di dalam budaya (manusia) secara kuat mempengaruhi pola-pola lanskap baik itu di kawasan terhuni (inhabited) maupun yang belum (natural).

Perubahan infrastruktur lanskap yang disebabkan oleh alam tidak lain dipengaruhi oleh karakateristik dari alam itu sendiri, dimana alam itu selalu berubah (Antrop, 2005). Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa kecepatan alam untuk mengalami perubahan saat ini tidak lepas dari campur tangan peradaban manusia, baik langsung maupun tidak. Peristiwa pemanasan global sebagai contohnya, yang  merupakan indikasi terganggunya siklus-siklus alamiah yang terjadi di alam oleh kegiatan manusia. Dampak-dampak seperti kenaikan baik itu temperatur maupun permukaan air laut pada akhirnya seperti  telah “memaksa“ manusia untuk melakukan perubahan infrastruktur lanskap pada lingkungan tinggalnya demi merespon isu lingkungan tersebut. Pada intinya, hubungan antara alam (lanskap secara luas) dengan manusia memang akan terus saling mempengaruhi dan sulit pada masa sekarang untuk menentukan “siapa mempengaruhi siapa“. Budaya (manusia) mempengaruhi lanskap (alam) dan lanskap mempengaruhi perwujudan budaya (Nassauer, 1995).

Berikut ini akan dipaparkan dua contoh kasus perubahan infrastruktur lanskap kota yang dilakukan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan ekologis masyarakatnya. Kedua kasus ini lebih ditekankan kepada contoh pengaruh keadaan sosial serta budaya masyarakat setempat saat itu dalam perubahan infrastruktur lanskap kota mereka –penekanan konteks perubahan yang disebabkan oleh manusia.

III.       PERUBAHAN INFRASTRUKTUR LANSKAP ELLIS ISLAND, NEW YORK

Pada tahun 1994, Public Space Research Group ditugaskan oleh lembaga pertamanan pemerintah di Amerika untuk melakukan sebuah penelitian yang bertujuan untuk menemukan  bagaimana reaksi penduduk lokal dalam usulan pembangunan jembatan yang menghubungkan Liberty State Park dengan Ellis Island. Ellis Island adalah area tempat imigrasi di New York yang beroperasi sejak tahun 1892 sampai 1954. Kantor imigrasi ini telah menjadi gerbang masuk ke Amerika bagi 12 juta imigran. Pada tahun 1983 dilakukan proyek restorasi dan pada tahun 1990 Ellis Island mulai dibuka kembali untuk publik dalam bentuk museum. Saat penelitian ini dilakukan Ellis Island hanya dapat diakses oleh publik melalui kapal ferry.

Penelitian ini mengambil tiga daerah studi dari lingkungan sekitar yang akan terkena dampak secara langsung dari pembagunan jembatan Ellis Island; yaitu Battery Park, Liberty State Park, dan lingkungan sekitar Liberty State Park. Metode dasar penelitian ini adalah Rapid Ethnographic Assessment Procedures (REAP) yang dalam pelaksanaannya menggunakan metode physical traces mapping, behavioral mapping, transect walks, individual interviews, expert interviews, impromptu group interviews, dan terakhir analisis.

Dari hasil penelitian, hal yang menjadi perhatian masyarakat dalam usulan proyek pembangunan jembatan Ellis Island dari tiga daerah studi tersebut agak mempunyai perbedaan. Untuk para pekerja dan pengguna di Battery Park sama sekali tidak khawatir dengan biaya feri atau jembatan, namun yang lebih dikhawatirkan adalah dampak setelahnya. Para pekerja dan pengguna di Liberty State Park lebih prihatin dalam hal keuntungan kesehatan, rekreasi, dan kerugian kualitas taman dari akses alternatif yang akan muncul apabila dibangun jembatan penghubung. Lain hal lagi dengan penduduk sekitar yang sangat mengkhawatirkan biaya feri dan alternatif akses yang diusulkan. Namun dari keseluruhan kelompok tadi dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling sering muncul adalah biaya, akses, kualitas taman, dan ekonomi.

Selain itu, penelitian ini membuka permasalahan kebutuhan sebenarnya dari usulan proyek pembangunan jembatan ini. Dengan adanya akses yang lebih murah akan memberikan kesempatan yang merupakan hak bagi orang miskin untuk mengunjungi Ellis Island. Namun pembangunan jembatan bukan satu-satunya solusi –pemberian subsidi kunjungan akhir minggu dapat digunakan bagi mereka yang menentang perubahan lanskap. Kemudahan aksesibilitas juga menjadi sebuah kelebihan dengan adanya pembangunan ini.

Melihat kesimpulan yang dihasilkan menunjukan bahwa penilaian dan proses perencanaan dapat ditingkatkan dengan berkonsultasi ke lingkungan sekitar melalui proses REAP. Masyarakat lokal sebagai pengguna utama mempunyai peran paling penting dalam perubahan infrastruktur lanskap. Pengkajian melalui keragaman budaya yang tinggi akan memberikan hasil yang lebih tepat sasaran dalam sebuah perubahan infrastruktur lanskap.

IV.       PERUBAHAN INFRASTRUKTUR LANSKAP SUNGAI CHEYONGGYECHON, SEOUL

Prasarana jalan raya dipandang sebagai sebuah infrastruktur yang sangat penting dalam sistem sebuah kota. Prasarana jalan juga merupakan salah satu bentuk elemen infrastruktur lanskap yang berbentuk corridor, elemen ini mempunyai peran langsung akan perpindahan manusia secara efisien dan lintasan lanskap yang baik. Namun tidak bisa dipungkiri, kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial seperti berkumpul dengan sesama juga menjadi kebutuhan utama masyarakat perkotaan pada saat ini. Dilema inilah yang mendasari konflik kebutuhan infrastruktur di sungai kota Seoul tersebut.

Ruang terbuka hijau memiliki pengertian yang lebih luas dari sekedar pengisian ruang terbuka dengan tumbuh–tumbuhan atau penghijauan. Dalam konteks pemanfaatan, tercakup pula pengertian pemanfaatan ruang terbuka untuk kegiatan masyarakat. Namun kebutuhan akan jalan tol seringkali menutupi kebutuhan ekologis manusia akan ruang terbuka hijau, karena seringkali kita menemukan bahwa jalan tol dibangun diatas area yang mempunyai nilai historis yang tinggi akan budaya masyarakat –seperti pada kasus ini misalnya.

Cheonggyechon (‘chon‘ sendiri berarti sungai), adalah aliran sungai yang mengalir dari barat ke timur di kuartal timur laut kota Seoul. Area ini selama 50 tahun sudah tertutup oleh struktur beton jalan layang, dan menjabat sebagai salah satu jalan arteri utama ibukota. Jalan tol layang ini dibangun untuk menangani beban lalu lintas yang sangat meningkat. Namun oleh karena beberapa alasan, pemerintah memutuskan untuk menghapus jalan tol layang ini, dan memulihkan kesehatan lingkungan sungai. Proyek pembaharuan ini tidak hanya membawa sistem yang ramah lingkungan, tetapi juga menjanjikan kehidupan ekonomi yang baru.

Proyek restorasi yang bertujuan memulihkan sungai Cheonggyechon sepanjang 3,65 mil ini akan mencakup pembongkaran jalan tol layang, menghapus struktur beton yang berdiri di atas sungai, membangun 21 jembatan terbuka yang melintasi sungai, memelihara dua sampai tiga jalur jalan raya di kedua sisi sungai, serta menghasilkan disain lanskap dan sistem pencahayaan yang baru.

Tujuan utama dari proyek ini adalah pentransferan paradigma pembangunan perkotaan, pemulihan ekologi lingkungan, dan pemulihan peninggalan sejarah dan budaya. Proyek pemulihan sungai Cheonggyechon ini adalah preseden yang baik untuk menyadari apa yang masyarakat Seoul inginkan di ruang kota. Sebanyak 70% responden menanggapi proyek ini dengan positif. Hasil pun terlihat dengan menurunnya tingkat polusi udara dan kebisingan yang terdeteksi di tempat ini.

Konsep dasar untuk proyek restorasi ini adalah memulihkan lingkungan ekologis yang telah memburuk dalam proses industrialisasi dan urbanisasi, dan mengembalikan intrinsik fungsi sungai; seperti pemanfaatan air, pengendalian banjir, pelestarian lingkungan hidup, dan lain-lain. Proyek restorasi ini akan membawa kembali ruang hijau terbuka di tengah kota, yang akan membuat co-eksistensi manusia dan alam. Dengan terciptanya ruang ramah lingkungan di kota, masyarakat juga akan ingin mengembalikan budaya dan sejarah lama kota Seoul; serta mengakomodasikan bisnis dan keuangan internasional di ruang terbuka yang sama –sehingga visi membawa kota Seoul sebagai kota budaya dan lingkungan pada abad ke-21 dapat tercapai.

V.        KESIMPULAN

Karakteristik sebuah lanskap pada dasarnya  merupakan interaksi yang terjadi antara lingkungan alam dengan budaya manusia di dalamnya. Inipun juga berlaku dengan konteks lanskap perkotaan –dimana wujud infrastruktur lanskap tidak lain merupakan hasil kompromi dari interaksi kedua komponen pembentuk kehidupan kota tersebut. Interaksi budaya manusia dengan lingkungan sekitarnya akan mengalami perubahan seiring dengan waktu dan ini akan menghasilkan transformasi perwujudan lanskap yang berbeda-beda pula terhadap waktu tersebut.

Melalui contoh kasus pertama mengenai penelitian pembangunan jembatan di Ellis Island, New York, menunjukan bahwa kualitas penilaian dan proses perencanaan dapat ditingkatkan dengan berinteraksi dengan pengguna utama fasilitas, yaitu masyarakat lokal. Hal ini tidak lain dikarenakan masyarakat lokal mempunyai peran paling penting dalam perubahan infrastruktur lanskap. Pengkajian melalui keragaman budaya yang tinggi juga akan memberikan hasil yang lebih tepat sasaran dalam sebuah pembangunan infrastruktur lanskap.

Mengubah sebuah prasarana infrastruktur yang sudah lama menjadi tulang punggung sebuah kota, seperti fasilitas jalan raya, adalah hal yang sulit namun bisa dilakukan –ini terlihat pada contoh kasus kedua, yaitu restorasi sungai Cheonggyechon, Seoul. Prasarana jalan layang yang dibangun di atas sungai ini diruntuhkan demi menciptakan kembali ruang terbuka hijau bagi masyarakat serta mengembalikan nilai budaya dari sungai tersebut –yang dimana pada masa lalu merupakan ruang  interaksi terbuka bagi masyarakat disekitarnya.

Melalui dua contoh kasus dengan konteks perubahan yang lebih disebabkan faktor manusia tersebut, dapat dilihat bahwa faktor fisik dari perubahan-perubahan yang terjadi merupakan representasi dari faktor psikologis masyarakatnya. Keberadaan infrastruktur lanskap adalah saksi dari perubahan kebutuhan manusia dari waktu ke waktu untuk menemukan kembali fakta fisik suatu komunitas –dalam hal ini adalah komunitas perkotaan.

REFERENSI

Antrop, M. (2005). Sustainable Landscape: Contradiction, Fiction, or Utopia. Landscape and Urban Planning 75: 187–197. http://elsevier.com/locate/landurbplan (1 September 2010)

Bohemen , H. (2005). Ecological Engineering: Bridging Between Ecology And Civil Engineering. The Network Concept And Ecological Networks:72-75. http://books.google.co.id (23 Oktober 2009)

Byrne, J. dan Wolch, J. (2009). Nature, Race, and Parks: Past Research and Future Directions for Geographic Research. Progress in Human Geography 33(6): 743–765. http://phg.sagepub.com (30 September 2010)

Casagrande, D. (2001). The Human Component of Urban Wetland Restoration. Yale F&ES Bulletin 100: 254-270. http://environment.research.yale.edu (19 Oktober 2010)

Dascălu, D. (2007). The Urban Landscape and the Landscape Urban Culture. http://univagro-iasi.ro (20 September 2010)

Hakim, R. (2004). Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap, Prinsip – Unsur dan Aplikasi Desain. Jakarta: Bumi Aksara.

Hwang, K. Y. (2005). Cheonggyecheon Restoration And Downtown Revitalization. Department of Urban Planning & Design, Hongik University, Seoul, Korea. http://www.hkip.org.hk (15 Oktober 2010)

Low, S. Taplin, D. dan Scheld, S. (2005). Rethinking Urban Parks: Public Space and Cultural Diversity. Austin: University of Texas Press.

Nam, Y. L. (2004). Cheonggyechon Restoration And Urban Development . http://management.kochi-tech.ac.jp (23 Oktober 2010)

Nassauer, J. (1995). Culture and Changing Landscape Structure. Landscape Ecology 10 (4): 229-237. http://personal.umich.edu (1 September 2010)

Nasution, A. (2003). Perkembangan Kebutuhan Masyarakat pada Ruang Terbuka Publik di Pusat Kota. http://repository.usu.ac.id (9 Oktober 2010)

Wu, J. (2009). Urban Sustainability: an Inevitable Goal of Landscape Research. Landscape Ecol 25: 1–4. http://leml.asu.edu (20 September 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: